Kerusakan bangunan di kawasan Kuhestak, Sirik, Iran, setelah serangan yang dilaporkan terjadi pada 2 September 2026. Eskalasi terbaru memicu kekhawatiran konflik AS-Iran kembali meluas.
JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam pertukaran serangan terbesar sejak Juli 2026.
Serangan terbaru Amerika Serikat ke sejumlah sasaran di Iran memicu respons dari Teheran. Iran kemudian melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sasaran yang disebutnya terkait kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran konflik kembali meluas di kawasan Teluk, terlebih setelah Iran memberikan peringatan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memperingatkan bahwa Washington masih dapat melancarkan serangan tambahan terhadap Iran.
Perkembangan ini turut memberikan tekanan terhadap pasar energi dunia. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi harga energi.
Reuters melaporkan pada Kamis (3/9/2026) bahwa harga minyak bergerak turun tipis setelah pasar mempertimbangkan ketidakpastian akibat serangan terbaru AS-Iran.
Dalam perkembangan lain, Iran menyebut 18 orang tewas dan 108 lainnya terluka dalam serangan terbaru Amerika Serikat. Iran juga menyatakan empat orang tewas dalam serangan yang mengenai lokasi sebuah pesta pernikahan. Klaim tersebut menjadi perhatian internasional, sementara pihak militer AS menyatakan tidak menargetkan warga sipil.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan korban sipil dan kembali menyerukan penghentian aksi militer serta penyelesaian melalui diplomasi.
Sumber : Reuters/ISNA/WANA
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Internasional |



01
02
03
04
05
