JAKARTA – Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat pada Senin (31/8/2026) setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, kawasan strategis di sekitar Selat Hormuz.
Serangan tersebut menjadi aksi militer langsung AS terhadap Iran yang pertama diketahui sejak akhir Juli. Washington menyebut serangan dilakukan untuk mencegah ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, termasuk dugaan persiapan Iran memasang ranjau laut di jalur strategis tersebut.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama enam bulan itu dapat kembali meluas di kawasan Timur Tengah.
Harga Minyak Langsung Melonjak
Pasar energi global langsung bereaksi terhadap eskalasi terbaru tersebut.
Harga minyak mentah Brent sempat naik lebih dari 3,5 persen menjadi sekitar US$91,25 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 3,55 persen menjadi US$86,36 per barel pada Senin.
Kenaikan tersebut terjadi karena investor kembali mengkhawatirkan keamanan distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak dan gas global serta meningkatkan biaya pengiriman energi.
Reuters melaporkan bahwa aktivitas pelayaran melalui selat tersebut masih jauh di bawah kondisi normal, meskipun sebagian pengiriman minyak mulai kembali bergerak.
Trump Klaim Kharg Island Diserang
Ketegangan semakin menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa fasilitas energi penting Iran di Kharg Island sedang dihancurkan.
Namun, klaim tersebut belum mendapatkan konfirmasi independen.
Reuters melaporkan bahwa video dramatis yang menyertai unggahan Trump ternyata merupakan video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Gedung Putih maupun Pentagon juga belum memberikan bukti yang mengonfirmasi adanya serangan terhadap Kharg Island seperti yang diklaim Trump.
Kharg Island sendiri merupakan salah satu pusat ekspor minyak paling penting bagi Iran sehingga setiap gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar energi dunia.
Iran Tegaskan Akan Membalas
Pemerintah Iran mengecam serangan Amerika Serikat dan menyatakan akan memberikan respons terhadap setiap serangan lanjutan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Tehran tidak mencari perang, tetapi Iran akan merespons dengan tegas apabila kembali diserang.
Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz terus menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi dunia.
Ancaman terhadap kapal tanker dan jalur pelayaran dapat meningkatkan biaya asuransi, ongkos pengiriman serta harga minyak mentah.
Pasar Global Mulai Tertekan
Dampak ketegangan AS-Iran tidak hanya dirasakan di pasar minyak.
Pasar saham global juga bergerak hati-hati pada awal pekan karena investor memperhitungkan kemungkinan konflik kembali meningkat. Kenaikan harga minyak juga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi.
Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dapat semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.
Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?
Bagi Indonesia, perkembangan di Selat Hormuz perlu menjadi perhatian karena kenaikan harga minyak dunia dapat memberikan dampak terhadap biaya energi dan transportasi.
Apabila harga minyak internasional terus meningkat, tekanan dapat muncul terhadap biaya impor minyak, harga bahan bakar, biaya logistik serta harga berbagai barang dan jasa.
Namun, dampak terhadap harga BBM di dalam negeri tidak otomatis terjadi hanya karena kenaikan harga minyak satu hari. Pergerakan harga juga dipengaruhi nilai tukar rupiah, kebijakan pemerintah, harga produk minyak dunia dan kondisi pasar energi domestik.
Karena itu, perkembangan konflik AS-Iran dalam beberapa hari ke depan akan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan pasar global.
Dunia Menanti Perkembangan Berikutnya
Eskalasi terbaru terjadi ketika upaya diplomatik untuk menjaga keamanan Selat Hormuz belum sepenuhnya menghasilkan stabilitas.
Amerika Serikat menyatakan ingin menjaga jalur pelayaran tetap terbuka, sementara Iran tetap menolak sejumlah klaim Washington mengenai kondisi keamanan selat tersebut.
Dengan meningkatnya kembali aktivitas militer, perhatian dunia kini tertuju pada kemungkinan serangan lanjutan dan dampaknya terhadap pelayaran internasional.
Jika konflik kembali meluas, Selat Hormuz bukan hanya menjadi persoalan keamanan Timur Tengah, tetapi dapat berubah menjadi persoalan ekonomi global karena menyangkut pasokan energi, harga minyak, inflasi dan stabilitas pasar keuangan dunia.
Sumber: Reuters, Associated Press, CNA dan laporan media internasional, diperbarui Senin, 31 Agustus 2026.
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Internasional |
