Bencana Dahsyat Nepal-China: 691 Tewas
KATHMANDU/BEIJING — Upaya pencarian dan penyelamatan korban bencana banjir bandang dan longsor besar di kawasan perbatasan Nepal dan China terus dilakukan hingga Minggu (30/8/2026). Bencana yang dipicu runtuhnya gletser di kawasan Himalaya tersebut telah menewaskan sedikitnya 691 orang, sementara lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang.
Menurut laporan Associated Press (AP), Nepal mencatat 675 korban meninggal dunia dan 2.498 orang masih hilang. Sementara di wilayah Tibet, China, sedikitnya 16 orang meninggal dan 546 orang masih dalam pencarian. Lebih dari 3.700 orang telah berhasil diselamatkan di Nepal.
Reuters melaporkan bahwa China pada Minggu mengidentifikasi 261 warga negara asing dari 23 negara yang masih hilang di wilayah Tibet setelah longsor besar menerjang kawasan perbatasan. Warga negara Nepal menjadi kelompok terbesar yang dilaporkan hilang, disusul warga India, Latvia, Amerika Serikat dan Inggris.
Runtuhnya Gletser Picu Banjir Besar
Bencana terjadi setelah bagian gletser dan material batuan runtuh di kawasan Himalaya. Material tersebut kemudian memicu aliran air, lumpur dan batu dalam jumlah besar yang menerjang kawasan permukiman serta infrastruktur di sepanjang aliran sungai.
Sejumlah wilayah di Nepal mengalami kerusakan parah. Jalan dan jembatan terputus, sementara beberapa fasilitas pembangkit listrik tenaga air turut terdampak. Pemerintah Nepal memperkirakan biaya pembangunan kembali dapat mencapai 4–5 miliar dolar AS, atau hampir sepersepuluh ukuran perekonomian negara tersebut.
AP melaporkan para ilmuwan menduga runtuhnya bagian gletser menyebabkan air tertahan sementara sebelum kemudian mengalir deras ke wilayah yang lebih rendah. Perubahan kondisi gletser dan ketidakstabilan kawasan pegunungan menjadi perhatian karena kawasan Himalaya mengalami pemanasan yang cepat. Namun, para ilmuwan menekankan bahwa hubungan langsung antara perubahan iklim dan kejadian spesifik ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Operasi Penyelamatan Menghadapi Medan Sulit
Tim penyelamat menghadapi tantangan besar karena banyak wilayah terdampak berada di kawasan pegunungan dengan akses jalan yang rusak. Cuaca buruk juga sempat menghambat operasi penyelamatan menggunakan helikopter.
Di sejumlah lokasi, warga yang berhasil menyelamatkan diri ditempatkan di pusat-pusat bantuan sementara. Pemerintah Nepal mengerahkan ribuan personel keamanan dan menggunakan helikopter untuk mengevakuasi korban dari daerah yang terisolasi.
Keluarga korban yang hilang masih menunggu kabar di rumah sakit, pusat pengungsian dan lokasi pencarian. Sebagian korban yang hilang merupakan warga asing yang berada di kawasan tersebut untuk bekerja, melakukan perjalanan wisata maupun mengikuti kegiatan ziarah.
Risiko Bencana di Himalaya Jadi Sorotan
Bencana ini kembali menyoroti meningkatnya risiko bencana yang berkaitan dengan kondisi gletser dan perubahan lingkungan di kawasan Himalaya.
AP melaporkan bahwa para ilmuwan melihat meningkatnya ketidakstabilan lereng, pencairan gletser dan perubahan kondisi lapisan es sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko longsor, banjir bandang dan aliran material di kawasan pegunungan tinggi. Para ahli juga menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan pemantauan gletser untuk mengurangi korban pada bencana berikutnya.
Hingga Minggu, pencarian korban masih menjadi prioritas utama. Pemerintah Nepal juga membutuhkan dukungan teknis dan bantuan internasional untuk menghadapi skala kerusakan yang sangat besar.
Bencana Nepal-China menjadi salah satu perhatian utama berita internasional hari ini karena besarnya jumlah korban, banyaknya warga asing yang masih hilang serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dan infrastruktur di kawasan Himalaya.
Sumber: Reuters dan Associated Press (AP), laporan terbaru 29–30 Agustus 2026.(*)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Internasional |
