Rabu, 21 Oktober 2026

Breaking News

  • Saat Hidup Penuh Ketidakpastian, Ingatlah Allah Selalu Dekat   ●   
  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
Sejumlah Ilmuwan Sebut COVID-19 Bukan Pandemi Tapi Sindemi, Maksudnya?
Kamis 12 November 2020, 14:21 WIB

Situsnews - Jakarta

Para ilmuwan yang setuju dengan konsep sindemi percaya bahwa pandemi seperti Covid-19 tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan medis.Dalam beberapa bulan terakhir berbagai negara mengambil langkah yang berbeda untuk mencegah penyebaran Covid-19. Ada yang memberlakukan pembatasan ketat, dan ada pula yang lebih fleksibel tergantung tingkat penyebaran di wilayah masing-masing.

Di Eropa, misalnya, banyak negara di benua tersebut kembali menerapkan pembatasan sosial dan bahkan memberlakukan karantina wilayah alias lockdown setelah mencatat rekor penambahan jumlah kasus. Selandia Baru, di sisi lain, menjalankan kesiagaan terendah. Walau banyak variasi kebijakan yang diterapkan, sejumlah ilmuwan dan pakar kesehatan berpendapat bahwa strategi-strategi itu masih terlalu terbatas untuk menghentikan laju infeksi.

"Semua intervensi kita berfokus pada memotong jalur penularan virus untuk mengendalikan penyebaran patogen," kata Richard Horton, pemimpin redaksi jurnal ilmiah The Lancet, baru-baru ini dalam sebuah tulisan editorial.

Menurut Horton, Covid-19 semestinya bukan dianggap sebagai pandemi, melainkan sebagai "sindemi". Sindemi sejatinya adalah akronim yang menggabungkan kata sinergi dan pandemi. Artinya, penyakit seperti Covid-19 tidak boleh berdiri secara sendiri. Bagaimanapun, kisah pandemi ini tidak sesederhana itu. Di satu sisi ada SARS-CoV-2, yaitu virus penyebab Covid-19. Di sisi lain, ada serangkaian penyakit yang sudah diidap seseorang. Dan kedua elemen ini berinteraksi dalam konteks ketimpangan sosial yang mendalam.

PBB memperingatkan awal tahun ini bahwa pandemi memiliki dampak yang tidak proporsional di antara populasi termiskin di dunia. (UNICEF)

Pada awal tahun ini, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan bahwa dampak pandemi COVID-19 "dialami secara tidak proporsional pada kelompok masyarakat paling rentan: orang yang hidup dalam kemiskinan, pekerja miskin, perempuan dan anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok marjinal lainnya".

Ketika satu tambah satu sama dengan lebih dari dua "Sindemi" bukanlah sebuah istilah baru. Kata ini diciptakan oleh antropolog medis asal Amerika Serikat, Merill Singer, pada 1990-an untuk menjelaskan situasi ketika "dua penyakit atau lebih berinteraksi sedemikian rupa sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih besar ketimbang dampak masing-masing penyakit ini".

"Dampak dari interaksi ini juga difasilitasi oleh kondisi sosial dan lingkungan yang entah bagaimana dapat menyatukan kedua penyakit atau membuat populasi menjadi lebih rentan terhadap dampaknya," kata Singer kepada BBC.

Ilmuwan sosial Merrill Singer menciptakan istilah "sindemi" pada 1990-an saat mempelajari penggunaan narkoba di komunitas berpenghasilan rendah di AS. Konsep sindemi muncul ketika ilmuwan tersebut dan koleganya meneliti penggunaan narkoba di komunitas berpenghasilan rendah di AS lebih dari dua dekade lalu. Mereka menemukan bahwa banyak dari mereka yang menggunakan narkoba menderita sejumlah penyakit lain, antara lain TBC dan penyakit menular seksual. Para peneliti mempertanyakan bagaimana penyakit-penyakit ini berada di dalam tubuh seseorang. Mereka menyimpulkan bahwa, dalam beberapa kasus, kombinasi penyakit memperkuat dampak dan kerusakan yang dialami orang itu.

"Kami melihat bagaimana Covid-19 berinteraksi dengan berbagai kondisi yang sudah ada sebelumnya - diabetes, kanker, masalah jantung, dan banyak faktor lainnya," jelas Singer.

"Dan kami melihat tingkat yang tidak proporsional dari dampak yang merugikan di komunitas miskin, berpenghasilan rendah, dan etnis minoritas."

(Detikcom/AS)




Editor : Tim
Kategori :
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top