Rabu, 4 Februari 2026

Breaking News

  • Bukan Sekadar Mental, Stres Keuangan Berdampak Serius pada Jantung   ●   
  • PGN Fokus Midstream, Jargas dan DME Jadi Andalan Ketahanan Energi   ●   
  • Jalur Lembah Anai Rawan Longsor, Pemerintah Rancang Tol Sicincin-Bukittinggi   ●   
  • ICMI Pekanbaru dan DT Peduli Sepakati Kerja Sama Penguatan SDM Umat   ●   
  • PHR Perkuat Inovasi Migas, Sumbang 26 Persen Produksi Minyak Nasional   ●   
WHO Katakan Amplifikasi Menurunkan Penularan Epidemi Covid-19
Minggu 20 September 2020, 12:28 WIB

situsnews.com-Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat lalu memberi peringatan bahwa virus corona tidak akan hilang dan tidak terbakar. Negara-negara yang memasuki musim dingin, utamanya orang-orang akan berkumpul lebih banyak di dalam ruangan. Untuk itu, menurutnya, perlu banyak aktivitas yang harus dilakukan agar terhindar peristiwa amplifikasi, menurunkan penularan epidemi ini

"Ini bukan situasi yang kita inginkan," ungkap Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO Mike Ryan saat konferensi pers di kantor pusat di Jenewa, Swiss, Jumat (17/09/2020) saat dikutip dari CNBC Internasional.

Dia pun menambahkan, "Ini bukan situasi di mana belahan bumi utara inginkan saat memasuki musim dingin. Ini bukan tempat yang diinginkan oleh negara berkembang dengan kondisi layanan kesehatan yang penuh dengan tekanan selama sembilan bulan ini."

Ryan mengatakan virus ini masih memiliki "jalan panjang untuk menghilang."

Beberapa pejabat WHO juga mengatakan mereka mulai melihat 'tren yang mengkhawatirkan' dalam jumlah kasus Covid-19, ketersediaan ICU dan rawat inap di belahan bumi utara saat memasuki musim yang lebih dingin.

"Itu (virus) tidak terbakar, tidak akan hilang," kata Ryan.

Dia pun mengkhawatirkan negara-negara yang memasuki musim dingin, karena saat musim dingin orang-orang akan berkumpul lebih banyak di dalam ruangan. Untuk itu, menurutnya, perlu banyak aktivitas yang harus dilakukan untuk menghindari peristiwa amplifikasi, menurunkan penularan epidemi ini, melindungi pembukaan sekolah, dan melindungi warga yang paling rentan dari penyakit parah dan risiko kematian.

Sebelumnya, Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Kluge telah memberi peringatan selama berminggu-minggu tentang peningkatan jumlah kasus Covid-19. Menurutnya, lebih dari separuh negara Eropa telah melaporkan peningkatan 10% atau lebih kasus dalam dua minggu terakhir dan tujuh di antaranya dilaporkan terdapat kasus baru yang meningkat lebih dari dua kali lipat.

Sementara di Amerika Serikat, pejabat kesehatan melaporkan rata-rata kasus baru Covid-19 per hari mencapai sekitar 39.000 kasus, berdasarkan data Universitas Johns Hopkins. Kasus Covid-19 tumbuh 5% atau lebih, berdasarkan rata-rata mingguan. Menurut analisis CNBC dari data Johns Hopkins, terdapat peningkatan dari delapan negara bagian pada waktu yang sama minggu lalu.

Pejabat kesehatan AS khawatir wabah itu bisa menjadi lebih buruk saat negara itu memasuki musim gugur dan musim dingin. Pejabat kesehatan telah berulang kali memperingatkan bahwa mereka sedang bersiap untuk memerangi dua virus jahat yang beredar akhir tahun ini saat wabah Covid-19 memasuki musim flu. Awal bulan ini, Pakar Penyakit Menular Anthony Fauci mengatakan mendekati musim gugur ini, kasus baru setiap hari sangat tinggi di AS.

"Begitu (angka kasus) sudah tinggi, ini akan sulit untuk menurunkannya," katanya.

Fauci pun mengatakan bahwa angka untuk AS akan menjadi "ratusan kasus, ribuan, tetapi bukan 20, 30, 40 ribu kasus sehari."

Maria Van Kerkhove, Kepala Teknis WHO untuk pandemi Covid-19, mencatat bahwa pejabat kesehatan global memiliki ratusan studi seroepidemiologi yang meneliti tingkat infeksi virus corona pada populasi yang berbeda. Studi tersebut menunjukkan bahwa "mayoritas penduduk dunia rentan terhadap infeksi virus ini," katanya.

"Itu berarti virus masih panjang," lanjutnya.

Van Kerkhove mengatakan bahwa sangat penting bagi negara-negara untuk memiliki rencana yang kuat saat wabah muncul. Dia mengatakan kepada CNN bahwa peningkatan jumlah pasien rawat inap di beberapa negara Eropa, seperti Inggris dan Prancis adalah "tren yang mengkhawatirkan" karena belahan bumi utara bahkan dianggap belum mulai mengalami musim flu yang dapat menambah tekanan pada sistem kesehatan yang sudah terbebani.

"Yang sangat penting saat ini adalah bagaimana negara-negara dalam menyikapi kondisi ini seperti bagaimana mereka memecahkan masalah, dan menekan angka kasus serendah mungkin," imbuhnya.

"Ini bukan hanya tentang angka kasus. Ini sangat penting dan kita harus dapat melacak tren ini tetapi kita juga perlu melihat kapasitas rawat inap, hunian ICU dan berapa banyak orang yang dirawat di perawatan intensif," tuturnya.




Editor :
Kategori :
Untuk saran dan pemberian informasi kepada situsnews.com, silakan kontak ke email: redaksi situsnews.com
Berita Pilihan
Selasa 03 Februari 2026
Bukan Sekadar Mental, Stres Keuangan Berdampak Serius pada Jantung

Jumat 30 Januari 2026
PGN Fokus Midstream, Jargas dan DME Jadi Andalan Ketahanan Energi

Rabu 28 Januari 2026
ICMI Pekanbaru dan DT Peduli Sepakati Kerja Sama Penguatan SDM Umat

Senin 26 Januari 2026
Jaecoo Hadirkan Dealer 3S Berstandar Global di Pekanbaru

Jumat 23 Januari 2026
Penertiban PKL Rohil Dinilai Tebang Pilih: Kedai Kopi Besar, Makan Badan Jalan Malah Dibiarkan

Jumat 16 Januari 2026
Kemah Budaya Wartawan HPN 2026 Digelar di Baduy, PWI Tekankan Penghormatan Adat

Selasa 13 Januari 2026
Rahasia Awet Muda Tanpa Skincare Mahal, Ini Kebiasaan Sehari-hari yang Jarang Disadari

Rabu 07 Januari 2026
Rekomendasi Paket Internet Telkomsel Murah untuk Sebulan, Mulai Rp30 Ribuan

Senin 29 Desember 2025
Upah Minimum Riau 2026 Ditetapkan, Ini Daftar UMK Kabupaten/Kota

Sabtu 27 Desember 2025
Tren Carnivore Diet Makin Populer, Pakar Ungkap Risiko di Balik Klaim Manfaat

Copyrights © 2025 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top