HASAD, iri, dan dengki dapat membuat seseorang sulit merasa puas dengan rezeki yang dimilikinya. Perasaan tersebut juga dapat mengikis rasa syukur dan membuat seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Padahal, rezeki merupakan bagian dari takdir Allah SWT. Karena itu, memahami hakikat rezeki perlu disertai dengan pemahaman dan keimanan terhadap takdir-Nya.
Satu hal yang perlu kita yakini, rezeki yang telah Allah tetapkan untuk kita tidak akan tertukar dengan rezeki orang lain.
Apa yang kita miliki saat ini hendaknya disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik.
Jika kita hanya memiliki kendaraan sederhana, sementara tetangga mempunyai kendaraan yang lebih bagus, yakinlah bahwa rezeki kita tidak tertukar.
Jika kita tinggal di rumah sederhana, sedangkan tetangga memiliki rumah mewah bak istana, kita tetap perlu bersyukur atas tempat tinggal yang kita miliki.
Sebab, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta atau kemewahan yang dimiliki. Rasa syukur dan keberkahan juga menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan.
Lalu, bagaimana kaitannya dengan meninggalkan sesuatu yang haram demi mencari rezeki yang halal?
Misalnya, ketika kita memilih menolak suatu pesanan atau pekerjaan yang bertentangan dengan keyakinan agama, karena ingin menjaga kehalalan rezeki dan mengharapkan keberkahan.
Jangan sampai kita merasa takut kehilangan rezeki atau menganggap penghasilan tersebut akan berpindah kepada orang lain hanya karena kita memilih untuk tidak mengambilnya.
Seorang Muslim hendaknya meyakini bahwa mencari rezeki bukan sekadar mengejar penghasilan, melainkan juga memperhatikan cara mendapatkannya.
Ketika kita berusaha meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, kita berharap Allah memberikan jalan rezeki yang lebih baik, halal, dan penuh berkah.
Keyakinan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”
(QS. Al-Isra': 30)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa Allah SWT Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan memberikan rezeki sesuai dengan kehendak serta hikmah-Nya.
Selain itu, terdapat pula nasihat tentang keutamaan meninggalkan sesuatu demi mengharapkan rida Allah SWT.
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadamu dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”
(HR. Ahmad, 5:363. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth menilai sanad hadis ini sahih. Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali juga menilai sanadnya sahih.)
Hadis tersebut menjadi pengingat agar kita tidak mudah mengorbankan prinsip agama hanya demi mendapatkan keuntungan sesaat.
Meninggalkan sesuatu yang haram memang tidak selalu mudah. Terkadang, keputusan itu membuat kita khawatir kehilangan penghasilan atau kesempatan. Namun, seorang Muslim diajak untuk tetap berikhtiar, mencari jalan yang halal, dan bertawakal kepada Allah SWT.
Tentu saja, kita tetap harus bekerja, berusaha, dan mencari peluang yang baik. Keyakinan terhadap takdir bukan alasan untuk berhenti berikhtiar, melainkan bekal untuk menjalani usaha dengan jujur dan penuh rasa syukur.
Rezeki tak pernah tertukar. Karena itu, jangan biarkan iri dan dengki menguasai hati. Syukuri apa yang dimiliki, jauhi yang haram, dan teruslah berusaha mencari rezeki yang halal.
Semoga Allah SWT melapangkan rezeki kita, memberikan kecukupan, serta menjadikan setiap penghasilan yang kita peroleh sebagai rezeki yang halal dan penuh berkah. Aamiin. (rumaysho)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Gaya Hidup |



01
02
03
04
05
