Selasa, 20 Oktober 2026

Breaking News

  • Produk UMKM Siak Tembus 40 Gerai Ritel Modern, Sembilan Pelaku Usaha Perluas Pasar   ●   
  • Bupati Afni: Mahasiswa Jangan Hanya Andalkan Teori, Pahami Persoalan Masyarakat   ●   
  • Jeff Bezos: AI Bisa Bikin Orang Menghidupi Keluarga dengan Kerja 3 Hari   ●   
  • Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran   ●   
  • 8 Amalan Pembuka Rezeki dalam Islam, dari Salat Dhuha hingga Silaturahmi   ●   
Kekecewaan terhadap Pemerintah Menguat, Mahasiswa Siapkan Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran
Selasa 20 Oktober 2026, 09:18 WIB

JAKARTA - Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam aliansi Komite Sadar (Selamatkan Daulat Rakyat) akan menggelar aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Aksi tersebut digelar untuk memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Yatalathof Imawan, mengatakan aliansi tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, tidak hanya dari UI.

Kampus yang disebut bergabung antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Airlangga (Unair), hingga Universitas Brawijaya.

Mahasiswa Sebut Bukan Sekadar Evaluasi Pemerintahan

Bagi mahasiswa yang tergabung dalam Komite Sadar, momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran bukan sekadar kesempatan untuk mengevaluasi kinerja kabinet. Mereka menilai berbagai persoalan ekonomi, demokrasi, dan penanganan bencana membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Yatalathof, yang akrab disapa Athof, mengatakan aksi tersebut dilatarbelakangi kekecewaan terhadap penanganan berbagai persoalan yang dinilai belum memadai.

"Kami aksi tapi bukan untuk minta evaluasi. Dua tahun pemerintahan yang gagal untuk apa dievaluasi? Kita bergerak karena sudah tidak ada harapan," ungkap Athof saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Senin (19/10/2026).

Menurutnya, kondisi demokrasi dan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah menjadi alasan mahasiswa mendorong penguatan kembali kedaulatan rakyat.

"Kedaulatan rakyat direbut oleh penguasa dapat dilihat dari segala ironi dan penindasan di berbagai daerah. Jadi kita bergerak atas dasar ingin rakyat berdaulat juga," tegas Athof.

Pernyataan tersebut mencerminkan sikap dan penilaian aliansi mahasiswa terhadap jalannya pemerintahan selama dua tahun terakhir.

Aksi Digelar di Dua Lokasi

Dalam aksi pada Selasa (20/10/2026), mahasiswa menjadwalkan kegiatan di dua lokasi di Jakarta.

Rangkaian kegiatan akan dimulai dengan aksi simbolik di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, pada pukul 09.00 WIB.

Selanjutnya, demonstrasi utama berupa mimbar bebas dijadwalkan berlangsung di kawasan Tugu Tani, Jalan Raya Kebon Sirih, mulai pukul 14.00 WIB.

Athof mengatakan, aksi di Jakarta merupakan bagian awal dari rangkaian gerakan mahasiswa. Sejumlah kampus lain disebut akan menggelar demonstrasi secara terpisah di daerah masing-masing sebelum merencanakan gerakan bersama.

"BEM UI akan aksi di Jakarta, untuk tanggal 20 yang lain di daerah masing-masing dulu, baru nanti kami akan buat gerakan besar bersama," jelasnya.

Survei 560 Responden Jadi Dasar Tuntutan

Sebelum menggelar aksi, Komite Sadar menghimpun aspirasi masyarakat melalui survei yang melibatkan 560 responden dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua.

Athof mengatakan hasil survei tersebut menunjukkan sejumlah persoalan yang menurut responden perlu mendapat perhatian pemerintah.

Berdasarkan hasil survei yang disampaikan Komite Sadar, sebanyak 78,8 persen responden menilai pemerintahan saat ini belum maksimal, bahkan gagal dalam menjalankan tugasnya.

Selain itu, sebanyak 71,1 persen responden menyoroti mahalnya harga kebutuhan pokok. Sebanyak 83,5 persen lainnya menyoroti persoalan lingkungan, termasuk deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Survei tersebut juga mencatat 62,7 persen responden menyoroti pembatasan kebebasan berpendapat, sedangkan 70,6 persen menyoroti praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Di sektor pendidikan, sebanyak 67,4 persen responden mengeluhkan tingginya biaya pendidikan. Sementara itu, 41,6 persen responden lainnya mendesak perbaikan di sektor ekonomi dan keuangan.

Athof mengatakan temuan tersebut menjadi salah satu landasan bagi aliansi untuk menyampaikan aspirasi melalui aksi unjuk rasa.

"Temuan ini menjadi peringatan bahwa keresahan masyarakat terhadap kondisi bangsa perlu dijawab secara serius. Pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap persoalan ekonomi, demokrasi, hukum, lingkungan, dan pendidikan yang menjadi perhatian responden," tuturnya.

Meski demikian, angka-angka tersebut merupakan hasil survei yang disampaikan oleh Komite Sadar. Informasi mengenai metode pengambilan sampel, komposisi responden, waktu pelaksanaan, dan tingkat keterwakilan survei diperlukan untuk menilai sejauh mana hasil tersebut menggambarkan pandangan masyarakat secara luas.

Lima Tuntutan Mahasiswa

Berdasarkan aspirasi yang mereka himpun, aliansi mahasiswa Komite Sadar merumuskan lima tuntutan yang akan disampaikan dalam aksi di Jakarta dan berbagai daerah.

Pertama, menetapkan kebakaran hutan dan lahan serta bencana banjir sebagai bencana nasional, menjamin dan memulihkan kesehatan warga, serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang dinilai bertanggung jawab atas krisis tersebut.

Kedua, memperbaiki tata kelola kebijakan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan pasar.

Ketiga, menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat.

Keempat, memberantas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Kelima, menurunkan biaya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik yang dinilai mahal, sekaligus memastikan akses yang merata bagi seluruh masyarakat.

Melalui aksi tersebut, Komite Sadar berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang mereka angkat, mulai dari ekonomi, lingkungan, demokrasi, hukum, hingga pendidikan.

Aksi ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan tuntutan terhadap kebijakan pemerintah setelah dua tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran. (kompas)




Editor : Tim
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Rabu 07 Oktober 2026
DPRD Riau Keras Soal DBH: Pusat Jangan Hanya Ambil Migas, Daerah Juga Harus Sejahtera

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top