SILATURRAHMI merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam. Selain menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat, silaturahmi juga dikaitkan dengan kelapangan rezeki dan panjang umur sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Lantas, bagaimana memahami hadis tersebut jika umur dan rezeki setiap manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan persoalan ini melalui pembahasan mengenai hubungan silaturahmi dengan ketetapan Allah.
Makna Hadis tentang Silaturahmi
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik.
Dalam penjelasannya, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menerangkan bahwa hadis ini bukan berarti setiap manusia memiliki dua kemungkinan umur yang berbeda, yakni satu umur ketika menyambung silaturahmi dan umur lainnya ketika memutuskan hubungan kekerabatan.
Menurut beliau, umur manusia tetap berada dalam ketetapan Allah. Namun, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya melakukan amalan yang membawa kebaikan, termasuk menyambung tali silaturahmi.
Beliau memberikan perumpamaan tentang seseorang yang ingin memiliki anak. Orang tersebut dianjurkan menikah sebagai salah satu jalan untuk memperoleh keturunan. Demikian pula silaturahmi, yang dianjurkan sebagai jalan untuk memperoleh kelapangan rezeki dan keberkahan umur.
Manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Karena itu, hadis tersebut menjadi motivasi agar umat Islam menjalankan amalan yang dianjurkan.
Kelapangan Rezeki dan Panjang Umur dalam Perspektif Takdir
Syaikh Al-‘Utsaimin juga menjelaskan bahwa kelapangan rezeki dan panjang umur dapat dipahami secara relatif. Dalam kehidupan, ada orang yang menjaga silaturahmi, tetapi meninggal pada usia yang relatif muda.
Menurut penjelasan beliau, keadaan tersebut tidak bertentangan dengan ketetapan Allah. Silaturahmi tetap merupakan amalan yang dianjurkan, sementara umur setiap manusia berakhir pada waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya.
Oleh sebab itu, keyakinan terhadap takdir tidak seharusnya membuat seseorang meninggalkan silaturahmi. Sebaliknya, seorang Muslim tetap dianjurkan menjaga hubungan dengan keluarga dan kerabat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Qadha dan Qadar Dapat Menguatkan Keimanan
Selain membahas silaturahmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan peran iman kepada qadha dan qadar dalam kehidupan seorang Muslim.
Menurut beliau, iman kepada ketetapan Allah dapat membantu seseorang dalam urusan agama maupun dunia. Keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah seharusnya mendorong seorang Muslim untuk tetap berusaha mencapai tujuan yang baik.
Beliau juga menyinggung pelajaran dari sejarah kaum Muslimin yang meraih kemenangan meskipun jumlah dan persiapan mereka terbatas. Dalam penjelasannya, keyakinan terhadap janji Allah serta iman kepada qadha dan qadar menjadi bagian penting dari sikap mereka.
Dengan demikian, iman kepada takdir bukan alasan untuk berpangku tangan. Seorang Muslim tetap perlu berikhtiar, menjalankan sebab-sebab yang baik, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menekankan bahwa keyakinan terhadap takdir perlu berjalan seiring dengan ikhtiar dan ketaatan. Silaturahmi tetap perlu dijaga, sedangkan iman kepada qadha dan qadar seharusnya menguatkan seseorang untuk terus berusaha dalam menjalani kehidupan.(almanhaj)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Gaya Hidup |



01
02
03
04
05
