PEKANBARU - Sebanyak 400 penampil dari kalangan masyarakat Minangkabau di Provinsi Riau bersiap memeriahkan Arak-arakan Keberagaman dan Persebatian Antaretnis di Riau yang digelar Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Minggu (18/10/2026).
Dalam kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober tersebut, masyarakat Minangkabau akan menampilkan perpaduan kesenian tradisional dan busana adat. Rombongan ini terdiri atas 200 pemain Gandang Tasa serta sekitar 200 peserta yang mengenakan seragam paguyuban dan pakaian tradisional Minangkabau.
Nara Hubung Penampilan Kebudayaan dan Kesenian Minangkabau, Saparudin Koto, mengatakan kepada Situs LAM Riau, Senin (12/10/2026), bahwa pihaknya berupaya menyatukan berbagai paguyuban Minangkabau dalam satu barisan.
Langkah tersebut mengikuti arahan panitia agar setiap etnis menampilkan satu pertunjukan. Saat ini, terdapat sekitar 17 paguyuban masyarakat Minangkabau atau Urang Awak yang tergabung dalam Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Riau.
“Insya Allah Minangkabau akan menampilkan 200 Gandang Tasa yang akan dimainkan oleh Himpunan Kesenian Tradisional Sumatera Barat (HKTS). Saat penampilan di depan panggung kehormatan, tim HKTS akan memainkan Tari Piring yang diiringi Gandang Tasa, saluang, serta bansi,” ujar Saparudin.
Selain pertunjukan musik dan tari, rombongan Minangkabau juga akan menghadirkan arak-arakan sekitar 200 peserta yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Sejumlah paguyuban yang terlibat di antaranya Mande PKDP dan Bunda KKSB.
Saparudin menjelaskan, barisan Minangkabau akan diawali anak daro yang membawa spanduk, kemudian diikuti para ketua dan pengurus paguyuban. Setelah itu, rombongan pemain Gandang Tasa dari HKTS akan mengiringi peserta yang mengenakan pakaian adat khas daerah masing-masing di Sumatera Barat.
Matangkan Persiapan dan Koordinasi
Menjelang pelaksanaan kegiatan, Saparudin bersama sejumlah ketua paguyuban terus melakukan koordinasi untuk mematangkan persiapan. Komunikasi dilakukan melalui grup WhatsApp guna memastikan seluruh unsur dapat tampil secara terkoordinasi.
“Kami terus berkoordinasi melalui grup WhatsApp. Mudah-mudahan saat tampil nanti bisa memberikan yang terbaik. Insya Allah Minangkabau tampil dalam satu barisan,” katanya.
Saparudin juga mengapresiasi inisiatif LAMR Provinsi Riau yang menggelar kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional 2026. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin agar kebudayaan daerah tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
Menurutnya, pengenalan budaya leluhur menjadi salah satu cara untuk memperkuat identitas bangsa sekaligus menjaga masyarakat dari pengaruh budaya yang tidak selaras dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Gandang Tasa, Simbol Kekompakan dan Identitas Minangkabau
Gandang Tasa merupakan kesenian musik perkusi tradisional dari Minangkabau, Sumatera Barat. Kesenian ini tidak hanya menjadi bagian dari pertunjukan budaya, tetapi juga mencerminkan keberagaman, kekompakan, kecintaan terhadap tradisi, serta semangat kebersamaan.
Dalam permainan tersebut, alat musik tasa berfungsi menjaga tempo, memberikan intro, dan menjadi penanda peralihan irama. Sementara itu, gandang tambua memperkuat ritme melalui permainan yang saling bersahutan.
Pola permainan tersebut menggambarkan pentingnya kepemimpinan yang terarah dan kerja sama dalam sebuah kelompok.
Gandang Tasa juga lekat dengan identitas dan semangat perjuangan masyarakat Minangkabau. Kehadiran musik ini kerap menandai berlangsungnya keramaian atau kegiatan adat. Dalam tradisi seperti Tabuik dan berbagai upacara adat lainnya, irama Gandang Tasa menjadi penggerak suasana sekaligus simbol semangat, daya tahan, dan kebanggaan terhadap warisan leluhur.(*)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Daerah |



01
02
03
04
05
