JAKARTA - Kopi tidak hanya dikenal sebagai minuman yang membantu meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga memiliki kaitan dengan aktivitas saluran pencernaan. Pada sebagian orang, kopi dapat membantu merangsang buang air besar (BAB). Namun, bagi sebagian lainnya, kopi justru dapat menimbulkan keluhan seperti refluks asam, iritasi lambung, hingga diare.
Karena itu, efek konsumsi kopi setiap hari terhadap kesehatan pencernaan dapat berbeda pada setiap orang. Faktor seperti kondisi saluran pencernaan, jumlah kopi yang dikonsumsi, serta waktu mengonsumsinya turut memengaruhi respons tubuh.
Dilansir dari EatingWell, 17 September, sejumlah ahli menjelaskan beberapa efek kopi terhadap sistem pencernaan.
1. Membantu BAB lebih teratur
Ahli gastroenterologi Linda Nguyen, MD, mengatakan kopi dapat merangsang aktivitas saluran pencernaan. Salah satu mekanismenya berkaitan dengan refleks gastrokolik yang dapat mendorong pergerakan usus, terutama setelah minum kopi pada pagi hari.
Kopi, termasuk kopi tanpa kafein, dapat merangsang kontraksi peristaltik yang membantu menggerakkan isi saluran pencernaan. Sementara itu, kafein dapat memberikan stimulasi tambahan terhadap motilitas gastrointestinal.
Efek tersebut tidak selalu berarti positif atau negatif. Bagi orang yang cenderung mengalami sembelit, stimulasi pergerakan usus dapat membantu keteraturan BAB. Sebaliknya, orang yang rentan mengalami diare atau BAB lebih sering dapat merasakan keluhan yang lebih berat setelah minum kopi.
2. Berpotensi mendukung mikrobioma usus
Mikrobioma usus merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan, terutama usus besar. Keanekaragaman mikroorganisme tersebut berkaitan dengan berbagai fungsi tubuh, termasuk pencernaan, metabolisme, dan sistem kekebalan.
Kopi mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk polifenol. Senyawa tersebut dapat berinteraksi dengan mikroorganisme di dalam usus.
Sejumlah penelitian yang dikutip EatingWell mengaitkan konsumsi kopi dengan perubahan komposisi mikrobioma, termasuk peningkatan beberapa jenis bakteri yang dianggap bermanfaat. Namun, respons mikrobioma terhadap kopi tetap dapat berbeda pada setiap individu.
3. Merangsang sekresi pencernaan
Efek kopi juga tidak hanya terjadi di usus. Menurut ahli gastroenterologi Malieckal, kopi dapat merangsang pelepasan gastrin, yaitu hormon yang berperan dalam peningkatan produksi asam lambung.
Kopi juga disebut dapat memengaruhi pelepasan asam empedu melalui mekanisme yang melibatkan hormon kolesistokinin. Hormon tersebut berperan dalam kontraksi kantung empedu dan pelepasan enzim pankreas yang dibutuhkan dalam proses pencernaan.
Rasa pahit kopi diduga turut berperan dalam proses tersebut. Rangsangan dari rasa pahit dapat mengaktifkan sinyal pada sistem saraf yang kemudian memengaruhi organ-organ pencernaan.
4. Dapat memicu refluks, iritasi lambung hingga diare
Meski memiliki sejumlah efek potensial terhadap sistem pencernaan, kopi tidak selalu cocok bagi semua orang.
Sebagian orang dapat mengalami peningkatan refluks asam, rasa tidak nyaman pada lambung, kembung, atau diare setelah minum kopi. Keluhan tersebut dapat lebih terasa apabila kopi dikonsumsi dalam jumlah banyak atau saat perut kosong.
Orang dengan kondisi seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), dispepsia fungsional, atau sindrom iritasi usus besar juga dapat lebih sensitif terhadap efek kopi.
Ahli Glinski menjelaskan, kopi dapat memengaruhi sfingter esofagus bagian bawah, yaitu katup yang membantu mencegah isi lambung naik ke kerongkongan. Bersamaan dengan peningkatan produksi asam lambung, kondisi tersebut dapat memperburuk gejala refluks pada sebagian orang.
Selain saluran pencernaan, konsumsi kafein dalam jumlah berlebihan juga dapat memengaruhi sistem saraf. Beberapa orang dapat mengalami rasa gelisah, sulit tidur, atau kewaspadaan berlebihan.
Dengan demikian, efek minum kopi setiap hari sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu. Jika kopi menimbulkan keluhan pencernaan, jumlah konsumsi dapat dikurangi dan respons tubuh perlu diperhatikan.
Sejumlah ahli yang dikutip EatingWell menyebut konsumsi sekitar 1–3 cangkir kopi per hari sebagai jumlah yang dapat dipertimbangkan bagi orang yang dapat mentoleransinya. Namun, kebutuhan dan toleransi kafein setiap orang berbeda. (detik)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Gaya Hidup |



01
02
03
04
05
