Minggu, 6 September 2026

Breaking News

  • Bupati Siak Tetap Kendalikan Karhutla dari Jakarta, Seluruh Kecamatan Dilaporkan Terpapar Asap.   ●   
  • Kebakaran TPA Putri Cempo Solo Membesar, Dua Helikopter Water Bombing Dikerahkan   ●   
  • Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan dan Aktivitas Warga   ●   
  • Dosen  FMIPA-FT Universitas Riau Tingkatkan Kompetensi Guru IPA SMAN 4 Siak Hulu di Bidang Kemagnetan   ●   
  • PBB segera Ganti Peta Dunia karena Salah Berabad-abad   ●   
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan dan Aktivitas Warga
Minggu 06 September 2026, 10:18 WIB
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026.

 

JAKARTA — Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang signifikan. Hingga Minggu, 6 September 2026 pagi, aktivitas vulkanik masih menjadi perhatian karena sebaran abu telah berdampak hingga wilayah udara di sekitar Jakarta dan sejumlah wilayah di Jawa serta Sumatra.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Pada 5 September, gunung api tersebut mengalami erupsi menerus mulai sekitar 23.07 WIB, disertai suara gemuruh dan semburan berwarna merah menyala yang menyerupai fenomena lava fountain atau air mancur lava.

Erupsi berlangsung sejak Jumat malam

Badan Geologi menjelaskan, rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau telah berlangsung sejak Juli 2026 dengan karakter erupsi Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

Pada erupsi menerus 5 September, tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati secara jelas. Namun, semburan merah menyala terlihat terus-menerus dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau Pasauran. Aktivitas tersebut juga disertai suara gemuruh yang terdengar dari kawasan sekitar Selat Sunda.

Badan Geologi menyebut fenomena semburan lava selama beberapa jam merupakan fenomena yang dapat terjadi pada aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemantauan terhadap aktivitas gunung api tetap dilakukan secara intensif.

Dampak paling nyata: penerbangan terganggu

Dampak erupsi kini tidak hanya dirasakan di sekitar Selat Sunda. Sebaran abu vulkanik telah memasuki wilayah udara Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memperpanjang penutupan sementara operasional Bandara Soekarno-Hatta hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 09.30 WIB, setelah pemeriksaan paper test pada pukul 06.05–06.35 WIB kembali menunjukkan indikasi keberadaan abu vulkanik di kawasan bandara.

Hingga pembaruan data pukul 05.30 WIB, tercatat:

  • 209 pergerakan penerbangan terdampak
  • 22.798 penumpang terdampak
  • 33 penerbangan mengalami gangguan langsung, termasuk pembatalan, penundaan, penjadwalan ulang dan pengalihan
  • 170 pesawat yang menginap semalam di area bandara dilaporkan dalam kondisi aman.

Untuk penerbangan internasional tercatat 16 pembatalan, 7 penundaan dan 5 penjadwalan ulang, sementara penerbangan domestik mencatat empat pembatalan dan satu pengalihan.

Abu vulkanik terdeteksi hingga wilayah Jakarta

Sebaran abu menjadi perhatian karena dapat mengganggu keselamatan penerbangan dan menurunkan kualitas udara. Laporan terbaru menyebut abu vulkanik telah terdeteksi di sekitar Jakarta dan Lampung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memantau sebaran abu di wilayah udara yang terdampak. Kondisi tersebut membuat otoritas penerbangan harus melakukan penyesuaian secara dinamis berdasarkan arah dan konsentrasi abu vulkanik.

Di sejumlah wilayah, masyarakat juga melaporkan gangguan berupa iritasi mata akibat paparan abu. Aktivitas sekolah dan kegiatan nelayan di sejumlah daerah turut mengalami gangguan.

Suara dentuman terdengar di sejumlah daerah

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga dilaporkan menimbulkan suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga sejumlah wilayah di Banten dan Lampung.

Laporan media menyebut suara tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi, bukan indikasi terjadinya gempa bumi.

Belum ada laporan korban jiwa

Sampai informasi terbaru yang tersedia pada Minggu pagi, tidak ada laporan korban jiwa maupun perintah evakuasi massal akibat erupsi ini. Permukiman terdekat berada lebih dari 16 kilometer dari gunung api.

Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang dan mengikuti informasi resmi pemerintah.

Tidak ada indikasi tsunami saat ini

Meski sejarah Gunung Anak Krakatau berkaitan erat dengan tsunami 2018, otoritas menyatakan tidak ada ancaman tsunami yang segera terjadi akibat aktivitas erupsi saat ini.

Badan Geologi menjelaskan ukuran tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini masih relatif kecil dan berdasarkan kondisi aktivitas yang terpantau tidak menunjukkan potensi runtuhan besar yang dapat memicu tsunami.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena karakter Gunung Anak Krakatau yang aktif dan berada di tengah perairan Selat Sunda.

Masyarakat diminta menjauh dari kawah

Badan Geologi tetap memberlakukan rekomendasi agar masyarakat, wisatawan maupun nelayan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat yang terkena hujan abu disarankan menggunakan masker dan pelindung mata, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup sumber air dan memperhatikan jarak pandang ketika berkendara.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai video atau informasi mengenai Gunung Anak Krakatau yang beredar di media sosial tanpa sumber resmi. Informasi perkembangan gunung api dapat dipantau melalui Badan Geologi, PVMBG dan MAGMA Indonesia.

Data penting per Minggu, 6 September 2026
Parameter                                                    Kondisi
Gunung                                                        Anak Krakatau
Lokasi                                                          Selat Sunda, Lampung Selatan
Status                                                          Level III – Siaga
Aktivitas terbaru                                          Erupsi menerus/lava fountain
Mulai erupsi menerus                                 5 September 2026, sekitar 23.07 WIB
Dampak utama                                           Abu vulkanik dan gangguan penerbangan
Bandara Soekarno-Hatta                           Ditutup sementara hingga 09.30 WIB
Penerbangan terdampak                           209 pergerakan
Penumpang terdampak                             22.798 orang
Korban jiwa                                                Belum ada laporan
Ancaman tsunami                                      Tidak ada ancaman segera yang terdeteksi
Radius larangan aktivitas                           3 km dari pusat erupsi

Sumber : Badan Geologi Kementerian ESDM/PVMBG, Kementerian Perhubungan, BMKG.




Editor : Tim
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat 28 Agustus 2026
76 Kades Diperpanjang, Jangan Sekadar Perpanjang Masa Jabatan

Senin 24 Agustus 2026
Ingin Jadi Petugas Haji 2027? Kemenhaj Buka Pendaftaran PPIH Mulai 25 Agustus

Jumat 21 Agustus 2026
Dari Pembinaan hingga Modernisasi, Kasmarni Raih Penghargaan Bakti Koperasi di Koperasi Awards 2026

Jumat 24 Juli 2026
FKPMR Sampaikan Dukungan Moril ke Rida K Liamsi

Senin 20 Juli 2026
Drama 120 Menit! Spanyol Taklukkan Argentina 1-0 dan Rebut Gelar Piala Dunia 2026

Rabu 01 Juli 2026
Viral di Media Sosial, Balut Dinilai Haram Menurut Hukum Islam

Senin 08 Juni 2026
Didukung Lebih dari 600 Penulis, UIR Masuk Jajaran Kampus Riset Terbaik di Riau

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top