Rabu, 21 Oktober 2026

Breaking News

  • Mitsubishi Pajero Terbaru Dibanderol Rp1,06 Miliar, Ini Bedanya dengan Pajero Sport   ●   
  • Wabup Syamsurizal Lantik 90 Pejabat di Lingkungan Pemkab Siak: Jabatan Adalah Amanah untuk Mengabdi, Bukan Mencari Kenyamanan   ●   
  • Harga Emas Antam Turun Lagi, Buyback di Pekanbaru Jadi Rp2,369 Juta per Gram   ●   
  • Ketika Sawit Membakar Langitnya Sendiri   ●   
  • Saat Hidup Penuh Ketidakpastian, Ingatlah Allah Selalu Dekat   ●   
PBB segera Ganti Peta Dunia karena Salah Berabad-abad
Minggu 06 September 2026, 07:09 WIB
Ilustrasi peta dunia yang salah berabad-abad karena tak menggambarkan ukuran sebenarnya.

JAKARTA-Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaksanakan pemungutan suara untuk mengadopsi peta dunia baru yang mencerminkan ukuran negara-negara yang sebenarnya, setelah negara-negara Afrika mendesak PBB memperbaiki kesalahan yang telah berlangsung berabad-abad.

Resolusi 'Perbaiki Peta' yang diajukan negara-negara anggota Uni Afrika serta Bahama, disahkan dengan dukungan sangat besar: 164 negara anggota memberi suara mendukung, enam abstain, dan hanya Amerika Serikat menentang.

Resolusi ini bertujuan memberikan representasi adil bagi wilayah-wilayah dunia terutama Afrika, dengan argumen bahwa distorsi peta saat ini membuat benua tersebut mengalami pengecilan simbolis.

Saat ini, banyak peta dunia didasarkan pada proyeksi Mercator, dibuat pembuat peta asal Eropa, Gerardus Mercator, tahun 1569. Proyeksi ini banyak digunakan untuk navigasi.

Namun proyeksi ini kurang berguna sebagai peta dunia karena skalanya terdistorsi. Negara-negara yang lebih jauh dari khatulistiwa tampak jauh lebih besar secara tidak proporsional dibanding negara-negara yang paling dekat.

Misalnya Greenland tampak lebih besar dari benua Amerika Selatan dan terlihat setara Afrika. Kenyataannya, ukuran Greenland kira-kira sama dengan Republik Demokratik Kongo dan Afrika 14 kali lebih besar dari Greenland.

Beberapa kritikus proyeksi Mercator menduga peta tersebut tetap banyak digunakan karena memperbesar dan menempatkan Eropa di tengah, serta wilayah Barat lainnya seperti Amerika Utara, yang melanggengkan gagasan supremasi kulit putih.

Resolusi PBB tersebut mencatat distorsi ini berkontribusi mengecilkan persepsi ukuran Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan.

Ditambahkan pula distorsi tersebut berkontribusi mengerdilkan realitas sosial ekonomi, kebutuhan infrastruktur, potensi pembangunan, dan kemakmuran wilayah Selatan, serta dapat memicu prasangka lingkungan, geopolitik, dan keamanan.
Dukungan Prancis

Resolusi tersebut mengusulkan proyeksi Mercator diganti proyeksi Equal Earth (Bumi Setara), yang menggambarkan luas permukaan wilayah-wilayah dunia lebih akurat.

Pada peta Equal Earth, diperkenalkan pada 2018, Eropa tampak menyusut, Brasil membesar, dan Greenland mengecil secara dramatis. Adapun Afrika tampak jauh lebih besar.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyebut negaranya akan meninggalkan proyeksi Mercator dan beralih ke representasi yang menggambarkan luas permukaan negara secara lebih akurat.

"Amerika Serikat, Rusia, dan China mendapatkan penonjolan visual tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara," katanya, dikutip CNN.

Pemungutan suara PBB ini terjadi setelah Uni Afrika mengadopsi Peta Equal Earth bulan Maret, dan setelah Togo, atas nama Uni Afrika, meminta negara anggota PBB untuk melakukan hal yang sama.

Selandia Baru juga sempat mempermasalahkan peta Mercator. Sebuah iklan pariwisata tahun 2018 bercanda bahwa Selandia Baru menghilang dari peta dunia karena posisinya di sudut kanan bawah.

Platform peta digital seperti Google Maps saat ini juga masih menggunakan versi proyeksi Mercator. Draf resolusi tersebut mendesak platform-platform teknologi untuk berdiskusi dengan negara-negara anggota PBB dan organisasi regional agar mengadopsi proyeksi yang lebih akurat.(*/jr)

 




Editor : jr
Kategori : Pendidikan
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Rabu 21 Oktober 2026
Mitsubishi Pajero Terbaru Dibanderol Rp1,06 Miliar, Ini Bedanya dengan Pajero Sport

Minggu 18 Oktober 2026
Bukan Sekadar Berita, Media Online Lokal Berpeluang Jadi Bisnis Menjanjikan pada 2027

Sabtu 17 Oktober 2026
Travel Warning ke Arab Saudi, AMPHURI: Umrah Tak Otomatis Dihentikan

Jumat 16 Oktober 2026
Dari Pinggir ke Panggung Dunia, Edi Sakura Buka JOTA-JOTI 2026 Pramuka Bengkalis

Kamis 15 Oktober 2026
Jadilah Orang Kaya yang Zuhud, Bukan Hamba Harta

Rabu 14 Oktober 2026
Hadis tentang Silaturahmi: Benarkah Bisa Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur?

Minggu 11 Oktober 2026
Jangan Iri dengan Nikmat Orang Lain, Ini Pesan Rasulullah agar Hati Lebih Tenang

Minggu 11 Oktober 2026
Upah Minimum Malaysia Naik Jadi RM2.000 atau Rp8,7 Juta, Keringanan Pajak dan Bantuan Tunai Ikut Bertambah

Sabtu 10 Oktober 2026
Kunci Menjalani Hidup dengan Tenang: Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal

Kamis 08 Oktober 2026
Kenapa Ijazah SMA Masih Penting? Ini Pengaruhnya pada Kerja, Kuliah hingga Gaji

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top