Sabtu, 5 September 2026

Breaking News

  • Dua Pekerja Diselamatkan Hidup-Hidup Setelah 9 Hari Terjebak di Terowongan Nepal   ●   
  • Prabowo Ajak Perusahaan Rusia Investasi di 138 Blok Energi Indonesia   ●   
  • Bagaimana Mengenali Orang Cerdas? Ini 9 Kebiasaan yang Bisa Diamati   ●   
  • Hari Pelanggan Nasional 2026, BRK Syariah Sudirman Apresiasi Nasabah   ●   
  • Empat Tahun Jadi Bank Syariah, BRK Syariah Hadapi Tantangan Perluasan Bisnis   ●   
Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.774 Hari Ini
Rabu 02 September 2026, 12:19 WIB
Rupiah Tertekan Lagi

 

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 2 September 2026. Mata uang Garuda dibuka melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp17.774 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.744 per dolar AS.

Gejolak Timur Tengah Jadi Perhatian Pasar

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pasar mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini bergerak dalam kisaran Rp17.750-Rp17.820 per dolar AS. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi serta neraca perdagangan.

Dolar AS Masih Menguat

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Penguatan dolar AS membuat sejumlah mata uang Asia ikut berada dalam tekanan.

Data pasar yang dikutip Okezone menunjukkan indeks dolar AS (DXY) berada di sekitar 99,780, menguat 0,11 persen pada pukul 09.00 WIB. Pasar juga memperhatikan data ekonomi Amerika Serikat, termasuk PMI manufaktur, JOLTS Job Openings, serta data ketenagakerjaan yang akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan Federal Reserve.

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen

Di dalam negeri, Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur 18-19 Agustus 2026 dengan mempertimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

BI juga terus memperkuat instrumen stabilisasi nilai tukar dan pendalaman pasar uang serta pasar valuta asing untuk menghadapi tingginya ketidakpastian global.

Ekonomi Indonesia Masih Memiliki Penopang

Di tengah tekanan nilai tukar, fundamental ekonomi nasional masih mendapat dukungan dari sejumlah indikator. Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen.

Sementara itu, Indonesia kembali mencatat surplus perdagangan pada Juli 2026 sebesar US$130 juta, setelah mengalami defisit US$450 juta pada Juni. Ekspor Juli mencapai US$26,22 miliar atau naik sekitar 6 persen secara tahunan, sementara impor mencapai US$26,09 miliar.

Namun, lonjakan impor terutama bahan bakar perlu diperhatikan. Impor minyak pada Juli meningkat hampir 50 persen, sehingga kenaikan harga energi global berpotensi menjadi salah satu risiko bagi perekonomian Indonesia ke depan.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah tidak serta-merta berarti seluruh harga barang langsung naik. Namun, jika berlangsung dalam waktu lama, depresiasi rupiah dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku yang bergantung pada impor.

Dampaknya dapat terasa pada:

Harga bahan baku impor yang menjadi lebih mahal.
Biaya produksi industri yang menggunakan komponen dari luar negeri.
Harga BBM dan energi, terutama jika harga minyak dunia ikut meningkat.
Harga barang elektronik dan produk impor.
Tekanan inflasi, apabila kenaikan biaya akhirnya diteruskan kepada konsumen.

Sebaliknya, sektor berorientasi ekspor dapat memperoleh keuntungan tertentu karena pendapatan dalam dolar AS memiliki nilai rupiah yang lebih besar.

Perdagangan dan Rupiah Jadi Sorotan

Pergerakan rupiah hari ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih sangat sensitif terhadap perkembangan global. Kombinasi geopolitik Timur Tengah, harga minyak, kekuatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan The Fed menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor dan pelaku usaha.

Bank Indonesia sendiri masih menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu fokus utama kebijakan moneternya.

Dengan demikian, perkembangan rupiah hingga penutupan perdagangan hari ini akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat seberapa besar tekanan eksternal terhadap pasar keuangan Indonesia pada awal September 2026.(*)

 




Editor : Tim
Kategori : Ekonomi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat 28 Agustus 2026
76 Kades Diperpanjang, Jangan Sekadar Perpanjang Masa Jabatan

Senin 24 Agustus 2026
Ingin Jadi Petugas Haji 2027? Kemenhaj Buka Pendaftaran PPIH Mulai 25 Agustus

Jumat 21 Agustus 2026
Dari Pembinaan hingga Modernisasi, Kasmarni Raih Penghargaan Bakti Koperasi di Koperasi Awards 2026

Jumat 24 Juli 2026
FKPMR Sampaikan Dukungan Moril ke Rida K Liamsi

Senin 20 Juli 2026
Drama 120 Menit! Spanyol Taklukkan Argentina 1-0 dan Rebut Gelar Piala Dunia 2026

Rabu 01 Juli 2026
Viral di Media Sosial, Balut Dinilai Haram Menurut Hukum Islam

Senin 08 Juni 2026
Didukung Lebih dari 600 Penulis, UIR Masuk Jajaran Kampus Riset Terbaik di Riau

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top