Sabtu, 5 September 2026

Breaking News

  • Dua Pekerja Diselamatkan Hidup-Hidup Setelah 9 Hari Terjebak di Terowongan Nepal   ●   
  • Prabowo Ajak Perusahaan Rusia Investasi di 138 Blok Energi Indonesia   ●   
  • Bagaimana Mengenali Orang Cerdas? Ini 9 Kebiasaan yang Bisa Diamati   ●   
  • Hari Pelanggan Nasional 2026, BRK Syariah Sudirman Apresiasi Nasabah   ●   
  • Empat Tahun Jadi Bank Syariah, BRK Syariah Hadapi Tantangan Perluasan Bisnis   ●   
Kualitas Udara Buruk Bukan Sekadar Bikin Sesak, Ini Dampaknya bagi Kesehatan
Minggu 30 Agustus 2026, 11:04 WIB
Kualitas Udara Buruk Bukan Sekadar Bikin Sesak

 

PEKANBARU — Kualitas udara yang buruk sering kali baru mendapat perhatian ketika langit mulai terlihat berkabut, jarak pandang berkurang atau muncul keluhan seperti batuk dan sesak napas. Padahal, udara yang tercemar dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, bahkan ketika polutan tidak selalu terlihat oleh mata.

Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah particulate matter (PM2.5), yakni partikel berukuran sangat kecil dengan diameter hingga 2,5 mikrometer. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan menembus ke aliran darah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut paparan polusi udara berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari penyakit pernapasan dan kardiovaskular hingga stroke dan kanker paru-paru. Risiko dapat muncul akibat paparan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Batuk dan Iritasi Bisa Menjadi Tanda Awal

Ketika kualitas udara menurun, sebagian orang dapat mengalami mata perih, hidung tidak nyaman, tenggorokan terasa kering atau gatal, batuk dan sesak napas.

Bagi masyarakat yang memiliki masalah pernapasan, paparan polusi dapat menjadi perhatian lebih serius. Anak-anak dan kelompok lanjut usia juga termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara. WHO mencatat bahwa anak-anak, ibu hamil, orang lanjut usia serta orang dengan penyakit kronis termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi akibat polusi udara.

Mengapa PM2.5 Perlu Diwaspadai?

PM2.5 tidak selalu terlihat. Partikel ini dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain asap kendaraan, aktivitas industri, pembakaran sampah dan kebakaran hutan maupun lahan.

BMKG menjelaskan bahwa PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil dan memantau konsentrasinya dalam satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³). Dalam informasi kualitas udara BMKG, konsentrasi PM2.5 sebesar 0–15,5 µg/m³ dikategorikan Baik, 15,6–55,4 µg/m³ Sedang, 55,5–150,4 µg/m³ Tidak Sehat, 150,5–250,4 µg/m³ Sangat Tidak Sehat, dan di atas 250,5 µg/m³ Berbahaya.

Artinya, masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan kondisi langit atau jarak pandang untuk menilai kualitas udara. Pemantauan data kualitas udara dapat memberikan gambaran yang lebih objektif.

Saat Udara Memburuk, Kurangi Aktivitas di Luar

Ketika kualitas udara berada dalam kondisi kurang baik, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi paparan.

Pertama, pantau informasi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Kedua, kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika konsentrasi polutan meningkat. Ketiga, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus ketika harus beraktivitas di luar.

Menjaga kualitas udara di dalam rumah juga tidak kalah penting. Ventilasi perlu dikelola dengan mempertimbangkan kondisi udara luar, sementara sumber polusi dari dalam rumah seperti asap rokok dan pembakaran juga sebaiknya dihindari.

Jangan Abaikan Keluhan Pernapasan

Batuk atau rasa tidak nyaman di tenggorokan setelah terpapar udara tercemar tidak selalu berarti kondisi serius. Namun, keluhan yang berat atau menetap perlu mendapat perhatian.

Jika seseorang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, sulit bernapas atau kondisi kesehatan memburuk, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Kualitas udara pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan masyarakat. Udara yang bersih merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Karena itu, kebiasaan memantau kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan dapat menjadi langkah sederhana untuk melindungi diri dan keluarga.

Jaga udara, jaga kesehatan. Sebab udara yang kita hirup setiap hari ikut menentukan kualitas hidup kita.(*)

 




Editor : Tim
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat 28 Agustus 2026
76 Kades Diperpanjang, Jangan Sekadar Perpanjang Masa Jabatan

Senin 24 Agustus 2026
Ingin Jadi Petugas Haji 2027? Kemenhaj Buka Pendaftaran PPIH Mulai 25 Agustus

Jumat 21 Agustus 2026
Dari Pembinaan hingga Modernisasi, Kasmarni Raih Penghargaan Bakti Koperasi di Koperasi Awards 2026

Jumat 24 Juli 2026
FKPMR Sampaikan Dukungan Moril ke Rida K Liamsi

Senin 20 Juli 2026
Drama 120 Menit! Spanyol Taklukkan Argentina 1-0 dan Rebut Gelar Piala Dunia 2026

Rabu 01 Juli 2026
Viral di Media Sosial, Balut Dinilai Haram Menurut Hukum Islam

Senin 08 Juni 2026
Didukung Lebih dari 600 Penulis, UIR Masuk Jajaran Kampus Riset Terbaik di Riau

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top