ilustrasi.BAGAN SIAPIAPI - Sandiwara administrasi dan draf "aksi cuci tangan" yang diduga dibangun oleh oknum Kepala KPLP Lapas Kelas IIA Bagansiapiapi, Sdr. SP, kini resmi memasuki babak akhir penantian sanksi mutlak. Pihak pelapor, Sdr. DW, dilaporkan telah menyusulkan dokumen Laporan Mutasi Rekening resmi perbankan (BNI) langsung ke pusat sistem pengaduan wilayah sebagai pemukul gong atas runtuhnya seluruh klaim pembelaan terlapor.
Bukti mutasi rekening koran multiperspektif ini hadir sebagai peluru utama yang membuat draf bantahan operasional milik oknum pejabat tersebut tidak lagi bernilai di mata hukum disiplin ASN.
Rekening Koran BNI Angkat Bicara: Bukti Aliran Dana Patahkan Skenario 'Suci'
Sebelumnya, dalam dokumen klarifikasi Nomor WP4.PAS.PAS.13.PW.06.05-1038 yang diserahkan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenkumham Riau, Sdr. SP dengan narasi meyakinkan mengeklaim telah menjaga jarak aman, bersikap profesional, dan melakukan pembatasan komunikasi (*ghosting*) total terhadap pelapor demi integritas korps.
Namun, fakta riil di atas kertas perbankan berkata sebaliknya. Dokumen Laporan Mutasi Rekening BNI yang resmi diserahkan pelapor DW memperlihatkan adanya transaksi keuangan operasional lapangan yang terstruktur dan nyata. Data mutasi bank ini dikenal sebagai alat bukti hukum absolut yang tidak bisa dimanipulasi secara opini birokrasi ataupun dibantah dengan draf retorika. Jejak aliran dana ini secara otomatis membongkar bahwa hubungan kerja sama non-kedinasan tersebut berjalan atas kesepakatan kompensasi, bukan operasi sepihak atau tindakan liar yang dituduhkan terlapor.
Saat dikonfirmasi terkait penyusulan bukti mutasi tersebut, pelapor DW menegaskan :
"Silakan terlapor membuat draf narasi seolah-olah dia bersih dan melakukan *ghosting* demi etik ASN. Tapi ingat, rekening koran BNI ini tidak bisa diajak berbohong atau dikondisikan! Angka mutasi ini adalah bukti otentik adanya komitmen operasional di lapangan. Bersama dengan log telepon 32 menit saat dia ketakutan dan chat instruksi resmi pimpinan tertinggi Lapas, skenario bohong dia resmi berakhir !" tegas DW dengan nada tinggi.
Indikasi bahwa tim pemeriksa internal Kanwil Kemenkumham Riau tersentak dan tidak main-main dalam menangani skandal manipulasi laporan ini terlihat dari dinamika komunikasi pada Rabu, 8 Juli 2026.
Awalnya, sistem pelayanan Kanwil sempat merespons laporan susulan pelapor DW dengan draf formal standar komputer pada sore hari pukul 15.54 WIB. Namun, situasi birokrasi internal diduga langsung memanas setelah tim pemeriksa membuka berkas lampiran PDF dokumen rekening koran BNI serta rangkuman fakta materiil yang disodorkan.
Tepat pada pukul 19.19 WIB jauh di luar batas jam dinas pelayanan resmi birokrasi dan memasuki waktu magrib seorang petugas pemeriksa Kanwil DirjenPAS secara manual dan mendadak melayangkan pesan penegasan atensi penuh:
*"Segera kami tindaklanjuti,"* tulis perwakilan Kantor Wilayah DirjenPAS Riau secara lugas dan tanpa basa-basi formal.
Langkah tim wilayah yang memilih mengabaikan batasan jam kerja untuk memberikan respons manual ini menjadi indikator kuat bahwa Kanwil Riau melihat adanya pelanggaran fatal terkait kredibilitas data administrasi yang dipasok oleh bawahannya sendiri.
Dengan terkuncinya seluruh bukti mulai dari jalur komando tertulis Kalapas tanggal 7 Mei 2026, log panggilan darurat 32 menit, hingga transaksi valid mutasi rekening BNI Kanwil Kemenkumham Riau kini berada dalam posisi diuji nyalinya oleh publik.
Berdasarkan aturan baku Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, tindakan memberikan keterangan palsu serta menyalahgunakan wewenang jabatan struktural demi operasi pengondisian di lapangan masuk dalam kategori pelanggaran berat. Sanksi mutlaknya tidak lain adalah pencopotan dari jabatan struktural secara tidak hormat.
Kini taruhan terbesar ada pada wibawa Kanwil Kemenkumham Riau: Apakah mereka akan segera mengambil tindakan tegas mencopot oknum pejabat KPLP yang terbukti menyodorkan draf laporan manipulatif, atau membiarkan harga diri instansi pembina terus-menerus dikencingi oleh kepalsuan laporan bawahannya sendiri?. (Dipo)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Rokan Hilir |



01
02
03
04
05
