Sabtu, 5 September 2026

Breaking News

  • Dua Pekerja Diselamatkan Hidup-Hidup Setelah 9 Hari Terjebak di Terowongan Nepal   ●   
  • Prabowo Ajak Perusahaan Rusia Investasi di 138 Blok Energi Indonesia   ●   
  • Bagaimana Mengenali Orang Cerdas? Ini 9 Kebiasaan yang Bisa Diamati   ●   
  • Hari Pelanggan Nasional 2026, BRK Syariah Sudirman Apresiasi Nasabah   ●   
  • Empat Tahun Jadi Bank Syariah, BRK Syariah Hadapi Tantangan Perluasan Bisnis   ●   
Emas Terpeleset dari Level Psikologis US$3.200, Imbas Redanya Ketegangan Dagang AS-China
Kamis 15 Mei 2025, 14:50 WIB
Emas.

JAKARTA – Harga emas dunia merosot ke level terendah dalam satu bulan. Penurunan ini dipicu oleh meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta proyeksi positif sejumlah lembaga terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Kondisi tersebut mendorong investor meninggalkan emas, sehingga harga logam mulia ini turun dari level psikologis US$3.200 per troy ons.

Pada perdagangan Rabu (14/5/2025), harga emas global turun 2,15% ke posisi US$3.177,55 per troy ons. Ini menjadi penurunan harian terbesar dalam beberapa pekan terakhir dan menjadikan harga emas menyentuh titik terendah sejak 9 April 2025.

Sementara itu, pada perdagangan Kamis pagi (15/5/2025) hingga pukul 06.20 WIB, harga emas di pasar spot mencatat penguatan tipis sebesar 0,15% ke level US$3.183,4 per troy ons.

Anjloknya harga emas lebih dari 2% pada Rabu didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap penyelesaian sengketa dagang antara dua ekonomi terbesar dunia. Meredanya ketegangan ini mengurangi ketidakpastian global dan mendorong investor beralih dari aset aman seperti emas ke instrumen berisiko yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Koreksi harga emas dipicu oleh penurunan tajam tarif antara AS dan China,” ujar Tai Wong, pedagang logam independen, kepada Reuters.

Pasar saham AS turut merespons positif. Indeks utama Wall Street menguat selama dua hari berturut-turut setelah adanya kesepakatan pengurangan tarif antara Washington dan Beijing. Hal ini menjadi sinyal bahwa sebagian investor mulai berpindah ke pasar saham.

Kesepakatan tersebut mencakup penurunan signifikan tarif impor dan penangguhan pemberlakuan tarif baru selama 90 hari, sambil menunggu penyelesaian detail kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump dalam wawancara pada Selasa (13/5/2025) menyatakan dirinya tengah menjalin komunikasi langsung dengan Presiden China Xi Jinping untuk merampungkan rincian perjanjian dagang. Trump juga mengungkapkan adanya potensi kesepakatan serupa dengan India, Jepang, dan Korea Selatan.

Sebelumnya, pada Senin (12/5/2025), AS dan China sepakat menurunkan tarif impor selama 90 hari. AS menurunkan tarif terhadap barang-barang asal China dari 145% menjadi 30%, sementara China memangkas tarif atas produk AS dari 125% menjadi 10%.

Emas, yang dikenal sebagai aset safe haven saat terjadi gejolak geopolitik dan ekonomi, sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$3.500,05 per troy ons pada bulan lalu. Sepanjang tahun ini, harga emas tercatat telah menguat 21,2%.

“Meski tren jangka panjang masih mengarah naik, saya tidak akan terkejut jika tekanan jual berlanjut dalam beberapa hari mendatang,” ujar Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.

Ia menyebutkan bahwa level support berikutnya berada di kisaran US$3.136 per troy ons, kemudian US$3.073, dan selanjutnya US$3.000 sebagai batas psikologis berikutnya.

Para pelaku pasar kini juga menantikan rilis data indeks harga produsen (PPI) AS yang dijadwalkan hari ini. Data tersebut akan memberikan petunjuk tambahan terkait arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menyusul data inflasi konsumen yang lebih lemah dari perkiraan sebelumnya.

Suku bunga yang lebih rendah umumnya meningkatkan daya tarik emas, mengingat emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.

Di sisi lain, faktor fundamental lain yang turut menekan harga emas adalah meningkatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dan China.

Goldman Sachs baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China menjadi 4,6% pada 2025 dan 3,8% pada 2026, dari sebelumnya 4,0% dan 3,5%. Bank investasi tersebut juga memperkirakan ekspor riil China akan stabil pada 2025/2026, berbalik dari perkiraan kontraksi sebesar 5% per tahun sebelumnya.

Untuk ekonomi AS, Goldman juga menurunkan peluang resesi dalam 12 bulan ke depan menjadi 35% dari sebelumnya 45%, seiring tercapainya kesepakatan dagang. Selain itu, proyeksi pertumbuhan PDB AS untuk kuartal IV-2025 dinaikkan menjadi 1,0% dari 0,5%.

Prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik di dua negara ekonomi terbesar dunia ini membuat investor lebih percaya diri untuk mengalokasikan dana ke aset berisiko seperti saham, yang diprediksi akan mendapatkan dorongan dari pemulihan ekonomi global. Hal ini pun turut menekan minat terhadap emas sebagai aset pelindung nilai.(cnbcindonesia)




Editor : Tim
Kategori : Ekonomi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat 28 Agustus 2026
76 Kades Diperpanjang, Jangan Sekadar Perpanjang Masa Jabatan

Senin 24 Agustus 2026
Ingin Jadi Petugas Haji 2027? Kemenhaj Buka Pendaftaran PPIH Mulai 25 Agustus

Jumat 21 Agustus 2026
Dari Pembinaan hingga Modernisasi, Kasmarni Raih Penghargaan Bakti Koperasi di Koperasi Awards 2026

Jumat 24 Juli 2026
FKPMR Sampaikan Dukungan Moril ke Rida K Liamsi

Senin 20 Juli 2026
Drama 120 Menit! Spanyol Taklukkan Argentina 1-0 dan Rebut Gelar Piala Dunia 2026

Rabu 01 Juli 2026
Viral di Media Sosial, Balut Dinilai Haram Menurut Hukum Islam

Senin 08 Juni 2026
Didukung Lebih dari 600 Penulis, UIR Masuk Jajaran Kampus Riset Terbaik di Riau

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top