IlustrasiJAKARTA — Berat badan berlebih bukan hanya berkaitan dengan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular. Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kesehatan persendian, termasuk meningkatkan risiko osteoartritis (OA) pada lutut.
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi, dr. Ihsan Oesman, Sp.OT, Subsp.KP, mengatakan OA merupakan kondisi pada sendi yang terjadi akibat kerusakan tulang rawan dan membran sinovial. OA dapat menyerang berbagai sendi, tetapi lutut menjadi salah satu bagian yang rentan karena berfungsi menopang berat tubuh.
"OA adalah radang sendi, bisa mengenai semua sendi. Di lutut karena dia adalah penopang," ujar Ihsan dalam diskusi media di Jakarta,seperti ikutip republika kemarin.
Menurut Ihsan, obesitas dapat meningkatkan risiko OA lutut hingga 2,3 kali dibandingkan orang dengan berat badan normal. Risiko tersebut juga cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya indeks massa tubuh (BMI).
Selain memberikan beban mekanis yang lebih besar pada lutut, jaringan lemak pada tubuh juga dapat berperan dalam proses peradangan. Jaringan lemak menghasilkan berbagai faktor proinflamasi yang dapat memicu kondisi peradangan kronis dan turut memengaruhi kesehatan sendi.
Karena itu, menurut Ihsan, menjaga berat badan menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mempertahankan kesehatan lutut.
Ia menjelaskan, OA dapat dibedakan menjadi OA primer dan sekunder. OA primer umumnya berkaitan dengan proses degeneratif, sementara OA sekunder dapat dipicu kondisi tertentu seperti trauma atau penyakit lain.
Pada perempuan, risiko OA juga meningkat seiring pertambahan usia dan memasuki masa menopause. Ihsan mengatakan perempuan yang telah memasuki menopause dan mulai mengalami keluhan pada persendian perlu mewaspadai kemungkinan OA.
"Untuk perempuan saat menopause dan ada keluhan di daerah sendi, bisa diasumsikan 70 persen adalah OA," katanya.
Selain berat badan dan usia, sejumlah faktor lain juga dapat meningkatkan risiko OA lutut. Di antaranya adalah riwayat cedera lutut, aktivitas olahraga yang terlalu berat atau intens, serta bentuk tungkai tertentu seperti kaki berbentuk O atau X.
Meningkatnya angka harapan hidup dan tren olahraga dengan intensitas tinggi juga dinilai dapat membuat OA ditemukan pada usia yang lebih muda. Ihsan menyebut sekitar 22 persen orang berusia 40 tahun mengalami knee OA atau osteoartritis lutut.
Obesitas Bukan Sekadar Persoalan Kemauan
Associate Director, Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny M. Tarliman, mengatakan obesitas telah diakui sebagai penyakit kronis dan kompleks. Kondisi tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh pilihan makanan atau kurangnya aktivitas fisik.
Menurut Riyanny, tubuh memiliki mekanisme adaptasi ketika seseorang menjalani program penurunan berat badan. Karena itu, berat badan yang awalnya turun dapat kemudian mengalami fase stagnasi meski seseorang merasa telah mempertahankan pola makan dan aktivitas yang sama.
"Obesitas tidak instan karena berjalan bertahun-tahun," ujarnya.
Ia mengatakan faktor biologis, hormonal, psikologis, genetik, sosial, dan lingkungan dapat berperan dalam obesitas. Kondisi tersebut membuat upaya penurunan berat badan tidak selalu sederhana hanya dengan mengurangi asupan kalori.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk berusia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen atau hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia.
Karena itu, penanganan obesitas perlu dilakukan secara komprehensif, antara lain melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang sesuai, perubahan perilaku, serta dukungan medis apabila diperlukan.
Ihsan mengatakan penurunan berat badan dapat menjadi bagian dari upaya membantu mengurangi beban pada sendi lutut. Materi diskusi yang digelar Novo Nordisk Indonesia menyebut penurunan berat badan sekitar 10 persen dapat memberikan perbaikan gejala yang bermakna pada sebagian orang dengan obesitas dan OA lutut.
Salah satu studi selama 16 pekan terhadap 175 perempuan lanjut usia dengan obesitas dan OA lutut menunjukkan mayoritas peserta berhasil menurunkan berat badan lebih dari 10 persen. Sebanyak 64 persen peserta mengalami perbaikan gejala yang bermakna, termasuk nyeri dan fungsi dalam aktivitas sehari-hari.
Pendekatan penurunan berat badan juga perlu memperhatikan kualitas penurunan berat badan, bukan sekadar angka pada timbangan. Upaya mengurangi massa lemak sekaligus mempertahankan massa otot penting untuk menjaga fungsi fisik dan kemampuan bergerak.
Bagi kelompok lanjut usia, Ihsan menyarankan aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kemampuan. Jalan pagi, latihan untuk mempertahankan kekuatan otot, berenang, dan stretching dapat menjadi pilihan.
"Olahraga bagi lansia tidak harus pilates atau yoga," katanya.
Ia menekankan aktivitas fisik sebaiknya dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Pada orang yang sudah mengalami nyeri atau keterbatasan gerak, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk menentukan bentuk latihan yang aman.
Sementara itu, dalam diskusi tersebut Novo Nordisk juga memaparkan hasil uji klinis STEP OA mengenai penggunaan terapi berbasis GLP-1 untuk individu dengan obesitas dan OA lutut. Hasil penelitian tersebut menunjukkan penurunan skor nyeri lutut dan perbaikan fungsi fisik dibandingkan plasebo.
Namun, penanganan OA dan obesitas tetap perlu dilakukan secara individual. Edukasi, pengelolaan berat badan, serta latihan fisik menjadi bagian penting dalam penanganan OA lutut dan dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing pasien.(**/s)
| Editor | : | jr |
| Kategori | : | Gaya Hidup |
