Rupiah Tertekan Lagi
JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 2 September 2026. Mata uang Garuda dibuka melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp17.774 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.744 per dolar AS.
Gejolak Timur Tengah Jadi Perhatian Pasar
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pasar mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini bergerak dalam kisaran Rp17.750-Rp17.820 per dolar AS. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi serta neraca perdagangan.
Dolar AS Masih Menguat
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Penguatan dolar AS membuat sejumlah mata uang Asia ikut berada dalam tekanan.
Data pasar yang dikutip Okezone menunjukkan indeks dolar AS (DXY) berada di sekitar 99,780, menguat 0,11 persen pada pukul 09.00 WIB. Pasar juga memperhatikan data ekonomi Amerika Serikat, termasuk PMI manufaktur, JOLTS Job Openings, serta data ketenagakerjaan yang akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan Federal Reserve.
BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen
Di dalam negeri, Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur 18-19 Agustus 2026 dengan mempertimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
BI juga terus memperkuat instrumen stabilisasi nilai tukar dan pendalaman pasar uang serta pasar valuta asing untuk menghadapi tingginya ketidakpastian global.
Ekonomi Indonesia Masih Memiliki Penopang
Di tengah tekanan nilai tukar, fundamental ekonomi nasional masih mendapat dukungan dari sejumlah indikator. Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen.
Sementara itu, Indonesia kembali mencatat surplus perdagangan pada Juli 2026 sebesar US$130 juta, setelah mengalami defisit US$450 juta pada Juni. Ekspor Juli mencapai US$26,22 miliar atau naik sekitar 6 persen secara tahunan, sementara impor mencapai US$26,09 miliar.
Namun, lonjakan impor terutama bahan bakar perlu diperhatikan. Impor minyak pada Juli meningkat hampir 50 persen, sehingga kenaikan harga energi global berpotensi menjadi salah satu risiko bagi perekonomian Indonesia ke depan.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Pelemahan rupiah tidak serta-merta berarti seluruh harga barang langsung naik. Namun, jika berlangsung dalam waktu lama, depresiasi rupiah dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku yang bergantung pada impor.
Dampaknya dapat terasa pada:
Harga bahan baku impor yang menjadi lebih mahal.
Biaya produksi industri yang menggunakan komponen dari luar negeri.
Harga BBM dan energi, terutama jika harga minyak dunia ikut meningkat.
Harga barang elektronik dan produk impor.
Tekanan inflasi, apabila kenaikan biaya akhirnya diteruskan kepada konsumen.
Sebaliknya, sektor berorientasi ekspor dapat memperoleh keuntungan tertentu karena pendapatan dalam dolar AS memiliki nilai rupiah yang lebih besar.
Perdagangan dan Rupiah Jadi Sorotan
Pergerakan rupiah hari ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih sangat sensitif terhadap perkembangan global. Kombinasi geopolitik Timur Tengah, harga minyak, kekuatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan The Fed menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor dan pelaku usaha.
Bank Indonesia sendiri masih menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu fokus utama kebijakan moneternya.
Dengan demikian, perkembangan rupiah hingga penutupan perdagangan hari ini akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat seberapa besar tekanan eksternal terhadap pasar keuangan Indonesia pada awal September 2026.(*)
| Editor | : | Tim |
| Kategori | : | Ekonomi |
