Kualitas Udara Buruk Bukan Sekadar Bikin Sesak, Ini Dampaknya bagi Kesehatan
Minggu 30 Agustus 2026, 11:04 WIB
Kualitas Udara Buruk Bukan Sekadar Bikin Sesak

 

PEKANBARU — Kualitas udara yang buruk sering kali baru mendapat perhatian ketika langit mulai terlihat berkabut, jarak pandang berkurang atau muncul keluhan seperti batuk dan sesak napas. Padahal, udara yang tercemar dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, bahkan ketika polutan tidak selalu terlihat oleh mata.

Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah particulate matter (PM2.5), yakni partikel berukuran sangat kecil dengan diameter hingga 2,5 mikrometer. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan menembus ke aliran darah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut paparan polusi udara berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari penyakit pernapasan dan kardiovaskular hingga stroke dan kanker paru-paru. Risiko dapat muncul akibat paparan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Batuk dan Iritasi Bisa Menjadi Tanda Awal

Ketika kualitas udara menurun, sebagian orang dapat mengalami mata perih, hidung tidak nyaman, tenggorokan terasa kering atau gatal, batuk dan sesak napas.

Bagi masyarakat yang memiliki masalah pernapasan, paparan polusi dapat menjadi perhatian lebih serius. Anak-anak dan kelompok lanjut usia juga termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara. WHO mencatat bahwa anak-anak, ibu hamil, orang lanjut usia serta orang dengan penyakit kronis termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi akibat polusi udara.

Mengapa PM2.5 Perlu Diwaspadai?

PM2.5 tidak selalu terlihat. Partikel ini dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain asap kendaraan, aktivitas industri, pembakaran sampah dan kebakaran hutan maupun lahan.

BMKG menjelaskan bahwa PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil dan memantau konsentrasinya dalam satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³). Dalam informasi kualitas udara BMKG, konsentrasi PM2.5 sebesar 0–15,5 µg/m³ dikategorikan Baik, 15,6–55,4 µg/m³ Sedang, 55,5–150,4 µg/m³ Tidak Sehat, 150,5–250,4 µg/m³ Sangat Tidak Sehat, dan di atas 250,5 µg/m³ Berbahaya.

Artinya, masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan kondisi langit atau jarak pandang untuk menilai kualitas udara. Pemantauan data kualitas udara dapat memberikan gambaran yang lebih objektif.

Saat Udara Memburuk, Kurangi Aktivitas di Luar

Ketika kualitas udara berada dalam kondisi kurang baik, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi paparan.

Pertama, pantau informasi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Kedua, kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika konsentrasi polutan meningkat. Ketiga, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus ketika harus beraktivitas di luar.

Menjaga kualitas udara di dalam rumah juga tidak kalah penting. Ventilasi perlu dikelola dengan mempertimbangkan kondisi udara luar, sementara sumber polusi dari dalam rumah seperti asap rokok dan pembakaran juga sebaiknya dihindari.

Jangan Abaikan Keluhan Pernapasan

Batuk atau rasa tidak nyaman di tenggorokan setelah terpapar udara tercemar tidak selalu berarti kondisi serius. Namun, keluhan yang berat atau menetap perlu mendapat perhatian.

Jika seseorang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, sulit bernapas atau kondisi kesehatan memburuk, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Kualitas udara pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan masyarakat. Udara yang bersih merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Karena itu, kebiasaan memantau kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan dapat menjadi langkah sederhana untuk melindungi diri dan keluarga.

Jaga udara, jaga kesehatan. Sebab udara yang kita hirup setiap hari ikut menentukan kualitas hidup kita.(*)

 




Editor : Tim
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top