Fire AI Lab, Inovasi Tim Ilmu Komputer UNRI untuk Deteksi Awal dan Monitoring Karhutla
Kamis 27 Agustus 2026, 13:10 WIB

PEKANBARU - Tim peneliti dari Jurusan Ilmu Komputer Universitas Riau (UNRI), melalui Kelompok Jabatan Fungsional Dosen (KJFD) Data Science, mengembangkan sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bernama Fire AI Lab.

Aplikasi ini dirancang untuk membantu pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memanfaatkan integrasi data hotspot, citra satelit, analisis lokasi, serta teknologi AI.

Pengembangan Fire AI Lab dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan sistem monitoring yang tidak hanya menunjukkan lokasi titik panas, tetapi juga mampu memberikan informasi mengenai kondisi di sekitar titik tersebut.

Selama ini, data hotspot dari satelit dapat menjadi salah satu sumber informasi awal dalam mendeteksi adanya anomali panas. Namun, keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan bahwa telah terjadi kebakaran. Diperlukan analisis lebih lanjut dengan melihat konteks wilayah, kondisi tutupan lahan, serta informasi pendukung lainnya.

Melalui Fire AI Lab, tim peneliti mencoba mengembangkan pendekatan yang menggabungkan berbagai sumber data tersebut sehingga informasi yang dihasilkan dapat lebih mudah dipahami dan digunakan sebagai bahan pendukung dalam proses monitoring.

Salah satu sumber data yang dimanfaatkan adalah FIRMS NASA (Fire Information for Resource Management System) yang menyediakan informasi titik panas dari pengamatan satelit. Data tersebut kemudian dapat dikombinasikan dengan citra satelit Sentinel-2 untuk melihat kondisi permukaan wilayah di sekitar titik hotspot.

Dengan pendekatan tersebut, sebuah titik hotspot tidak hanya dilihat sebagai koordinat pada peta. Sistem juga diarahkan untuk memberikan gambaran mengenai lingkungan di sekitarnya, seperti kondisi tutupan lahan dan kenampakan wilayah yang dapat menjadi informasi tambahan dalam proses analisis.

“Hotspot bukan berarti pasti kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali panas yang perlu dianalisis lebih lanjut. Karena itu, yang ingin kami kembangkan adalah bagaimana satu titik tersebut dapat diberikan konteks melalui data lainnya,” ujar tim peneliti KJFD Data Science Jurusan Ilmu Komputer Universitas Riau.

Pengembangan Fire AI Lab juga memanfaatkan teknologi Large Language Model (LLM) dan Retrieval-Augmented Generation (RAG). Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengolah dan menyajikan informasi sehingga data teknis dapat diterjemahkan menjadi penjelasan yang lebih mudah dipahami.

Pendekatan ini memungkinkan sistem tidak hanya menampilkan data, tetapi juga membantu pengguna memahami informasi yang tersedia berdasarkan sumber data dan pengetahuan yang digunakan dalam sistem.

“AI dalam aplikasi ini bukan untuk menggantikan petugas atau menentukan secara otomatis bahwa suatu lokasi pasti terbakar. AI lebih diarahkan untuk membantu mengubah data menjadi informasi dan membantu menentukan lokasi mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih awal,” jelas tim pengembang.

Menurut tim peneliti, prinsip tersebut penting karena keputusan terkait kondisi karhutla tetap membutuhkan verifikasi dan penilaian manusia di lapangan.

Fire AI Lab dikembangkan dengan konsep data-driven monitoring, yaitu pemanfaatan data sebagai dasar untuk membantu proses pengamatan dan penentuan prioritas.

Dengan menggabungkan data hotspot, citra satelit, informasi lokasi, dan AI, sistem diharapkan dapat membantu pengguna dalam beberapa tahapan, mulai dari menemukan titik yang perlu diperhatikan, memahami kondisi wilayah di sekitarnya, hingga menentukan prioritas untuk dilakukan verifikasi lebih lanjut.

Konsep tersebut menjadi penting, khususnya dalam pemantauan karhutla yang memiliki wilayah cakupan luas. Data satelit dapat membantu memberikan gambaran wilayah secara lebih cepat, sementara proses verifikasi lapangan tetap menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi sebenarnya.

“Tujuannya sederhana, bukan menggantikan manusia, tetapi membantu menjawab pertanyaan: di mana kita harus melihat lebih dulu?” ungkap tim peneliti.

Pengembangan Fire AI Lab menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan Data Science, Artificial Intelligence, Remote Sensing, dan Geographic Information yang dikembangkan oleh dosen dan peneliti di lingkungan Jurusan Ilmu Komputer Universitas Riau.

Melalui KJFD Data Science, pengembangan teknologi diarahkan tidak hanya pada aspek penelitian dan publikasi ilmiah, tetapi juga pada pemanfaatan hasil riset untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat, khususnya persoalan lingkungan yang membutuhkan dukungan teknologi dan data.

Tim peneliti melihat bahwa Provinsi Riau dan wilayah Sumatera memiliki tantangan besar dalam pemantauan kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, pemanfaatan data satelit yang tersedia secara terbuka serta teknologi AI menjadi salah satu peluang untuk membangun sistem monitoring yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Fire AI Lab saat ini terus dikembangkan dengan berbagai kemungkinan integrasi sumber data dan fitur analisis. Ke depan, sistem tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu prototipe teknologi yang mendukung pemantauan karhutla berbasis data dan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan penelitian, edukasi, maupun implementasi di lapangan.

Tim peneliti menegaskan bahwa teknologi satelit dan AI bukan pengganti observasi manusia. Keduanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat proses memperoleh informasi dan membantu menentukan prioritas pemeriksaan.

“Satu titik hotspot mungkin hanya sebuah titik di peta. Namun, ketika dikombinasikan dengan data dan analisis yang tepat, titik tersebut dapat menjadi awal dari informasi yang jauh lebih bermakna.”

Fire AI Lab dapat diakses melalui https://fire.ailab.id/.(Rilis)




Editor : Tim
Kategori : Pendidikan
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top